Monday, July 10, 2006

Piala Dunia

Ada yang nyadar gak sih kalo piala dunia itu sebenernya pertunjukan hidup sehari-hari?

Liat aja tim Brazil.. mereka dengan sombongnya berkata: "Brazil adalah tetap Brazil, Juara Dunia" hahahaha... liat gimana kesombongan itu ditenggelamkan Zidane seorang.

Liat Zidane sewaktu 'nyundul' Materazzi, hahahahaha Zidane juga manusiaaaaaa... dubidubidam!

Liat Ronney pas dia mendorong Christiano Ronaldo, kayak ngeliat temen-temen gue... ato malah liat diri sendiri. Maen jago tapi gak pake otak, pake otot! Akhirnya 'mati' juga.

Liat Beckham, don't judge book by it's cover... hahahah tampang bukan segalanya.

Liat Tim tanggo, ternyata hidup ini butuh keberuntungan. Ato doanya kurang? Usaha dan Doa harus seimbang. Aniwei, salut buat tim tanggo... Anda hanya kurang beruntung kali ini.

Buat loe-loe yang egois, yang merasa dirinya hebat: Liat Shevchenko, Didier Drogba... dll. Mana bisa menang kalo tim-nya nggak ngedukung! Hidup bukan tentang lu doang! (sensi amat gue yak hehehe)

Liat Italia, dari awal media massa di sana bisanya nyelain doang. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Ada saatnya kita gak usah dengerin omongan orang yang bisanya ngeberatin. Forza Azzuri!

Liat Portugal dengan segala provokasinya, dan 'Divingnya', bener bener nyelem deh... ditenggelemin Zidane.

Liat Christiano Ronaldo, bikin malu bali aja... coba liat apa yang dia temukan di bali lewat iklan extra joss? "I found a secret in bali.. diving" hahahahahahaha...

Terakhir liat diri kita sendiri aja... rela begadang, rela gak masuk kantor, rela gak sholat subuh karena ketiduran... padahal kita kenal juga nggak sama Ronaldo dkk.

Kasih komen yah.. biar manab.. eh mantab!

Sunday, September 04, 2005

Tamu yang pasti berkunjung

Bahwa malaikat maut meperhatikan wajah manusia
di muka bumi ini 70 kali dalam sehari.
Ketika Izrail datang merenung wajah seseorang,
didapati orang itu ada yang gelak-ketawa.
Maka berkata Izrail:
"Alangkah herannya aku melihat orang ini,
sedangkan aku diutus oleh Allah Taala
untuk mencabut nyawanya,
tetapi dia masih berhura-hura dan bergelak-tawa."

Thursday, May 26, 2005

Ada Kotak di Otak Gue!

Gak tau darimana itu "kotak" datangnya.. tiba-tiba aja masuk ke otak gw. Gue ini judulnya copywriter, tapi gue akhir-akhir ini merasa harus beda sama art director. Padahal yang gue hasilkan adalah sebuah iklan, bukan hanya copy. Sebuah "what to say" bukan hanya copy!

Otomatis, gue juga harus berpikir secara visual. Bego namanya kalo gue cuma mikirin copy (ini pemikiran gue dulu banget) eehh sekarang gue malah merasa jauh dari art director... gue sekarang cenderung cuma berpikir secara copy: "terserah gambarnya mau kayak apa... itu urusan Art Director!!" Inilah si "KOTAK" dalam otak gue.

Sebuah contoh kecil, sewaktu seorang Copywriter menulis sebuah copy dalam ms. word dia juga harus mikirin: Itu copy berapa kalimat?, berapa kata?, rata kiri?, rata kanan?, dsb. Soalnya begitu masuk layout, si "copy" bukan hanya harus enak dibaca tapi juga harus enak dilihat (berarti jadi visual dong). Nah kalo udah kayak gitu teorinya berarti si Copywriter udah mempraktekkan visi seorang Art Director.. iya gak?!
belom lagi kalo bikin TVC... "lu kira yang punya bayangan TVC-nya kayak apa (secara visual) cuma art director?!"

Kadang yang punya ide visual justru dari gue (bukan berarti art dir gue bego loooh), kadang2 yang punya angle sebuah gambar justru dari gue... padahal kan gue Copywriter!!! (ini bukan curhat tentang Art Director gue... dia partner yang yang asik... jadi sekali lagi bukan tentang dia.. it's just me)

Ada gak yang bisa ngilangin KOTAK itu dari otak gue gak...?? Ada yang tau kenapa gue tiba2 bisa mengKOTAKan diri gue?? ato Siapa yah, yang naro itu KOTAK di otak gue??!!
Ya udah lah gak usah diambil pusing... mendingan gue makan otak-otak... lebih konak.. e..eeh lebih enak!


Terinspirasi dari komen glenn terhadap postingan inco, tapi sekali lagi, ini bukan tentang dia.

Wednesday, May 18, 2005

Untung gue cuma bikin iklan...

Malem itu, seperti biasa gw berserta tim tercinta pulang dari kantor... tim gw selalu (biasanya) jadi tim yang terakhir pulang huhuhuhuhu... tapi bukan itu yang gw mau share :D.
Ditengah perjalanan menuju parkiran motor biasalah gue sharing dan ngobrol-ngobrol kecil, curhat ama Inco partner tercinta gue.

Vida: "Gila Co, capek banget gue!!!"
Inco: "hahahaha"
Vida: "Kalo gini terus sampe tua, bisa2 gue dipanggil "om" nih sama anak2 gue"
Inco: "Yoi, gue serem Vid kalo pulang malem, soalnya kemaren ban gue bocor... trus gw jalanin aja tuh motor... abis gue takut..."

Bla... bla... bla... dan seterusnya keluarlah ungkapan penat gue dan Inco. Kami pun segera meninggalkan gedung kantor kami (di bilangan pancoran) dengan motor masing-masing. di tengah jalan (sambil naek motor kharisma gw), gw merenung lagi tentang omongan gue sama Inco. Lamunan gue melayang jauh, gak tega gue ama anak-anak gue yang gak kenal ama bapaknya karena bapaknya gak pernah diliatnya...............##$@%#%%^%#

Gak terasa akhirnya gue sampe juga di depan Unversitas Mustopo Beragama (katanya beragama hehehehe) disitu motor gue berhenti. Gue kaget banget!! kok malem gini masih aja macet sih...??!! Tapi yah namanya juga motor, gw nyelip-nyelip aja kayak bajay. Nah di ujung kemacetan, barulah gw menemukan masalahnya: Taman Puring kebakaran..!! "Lagi...??!!!" teriak gue dalam hati. TRENYUH GUE!!! Ngeliat Ibu-ibu pedagang berusaha nyelametin barang dagangannya dari si jago merah. Semua tampak riuh... orang-orang berlarian, udah gitu ada segelintir orang yang dengan ngeheknya (maap!!) ngambilin/ngejarah!!!!! Gw bisa bedain mana penjarah, mana pedagang dari raut wajah mereka; yang satu sedih, cemas dan kusut. Tapi yang satu lagi senyum-senyum ngehek (maap lagi) . Memang sih ini cuma asumsi gue.. bisa jadi gue salah.

Ngeliat kejadian diatas gw pengen nangis!!
"GILA NYARI MAKAN DI JAKARTA SUSAH AMAT YAAK!!"
Dari kejadian diatas gw bener-bener sadar setiap pekerjaan pasti ada risikonya (Risiko kan Cin?). Jadi supir risikonya tabrakan, jadi pedagang risikonya rugi, jadi maling risikonya di penjara... jadi orang iklan risikonya pulang malem.
Setiap teriakan ibu-ibu itu tiba di kuping gue begini bunyinya; "Vida, yang lu alamin sekarang gak seberapa, dibanding yang harus gue alami"

Dari kejadian diatas pula gue sekarang bisa ngomong dalam hati:
"Untung gue cuma bikin iklan.. nobody dies gituloh!!!"

With respect

Merdu sekali

Malam ini, tak berubah sedetikpun putaran rasa seperti malam-malam lalu.
Rinduku datang bak pencuri malam mengendap-endap di bawah cahaya bulan. Tak kuat kujaga hati ini terbawa gelisah yang mengintip meradang.
Wahai Yang Terindah, tak mampu kuhapus kasih sapamu oleh buaian rembulan
jingga di bawah telaga. Sinarmu membias laksana pelangi berjuta warna yang menutup pesona cakrawala di langit senja.

Kala kau kedipkan mata, bunga-bunga musim semi kan menari meniti angin,
berlomba-lomba menutupi mentari yang mengguyur terik pada silau angkasa mata. Buah-buah kenari berdandan diri meminjam rona anggur, mengharap sudi kau gelitik oleh desah hidungmu.

Dimanakah kau pinjam kelopak bunga yang membungkus lembut bibirmu,
karna senyummu tlah menahan kedip bintang yang segera bersimpuh menghantar
cupu sinar sesembahan di sudut sapuan lukisan sutramu.
Kurindu belaianmu yang menghantar damai pucuk pinus, saat bulan beranjak dua belas. Belaian yang mampu menghalau sumpah mega-mega pada langit naungan badai yang bersiap pesta pada rongga kesedihanku.
Tak padam rinduku pada kecupanmu yang bersembunyi pada lelap kehangatan.
Kurindu.

Dan kian kurindu pada malam yang tak terbayangkan.
Karena telah kuberikan cinta pada impian yang tak berwujud.

Jangan mimpi, pintaku. Janganlah mimpi.....

"Satu malam, setelah lewat kutersenyum melepas lelap di hamparan kembang-kembang hutan, kuhentikan tengokku dengan bisikan doa yang merangkul hangat diri-Nya bagi damai malam. Dalam tidur, tanpa angin, tanpa hujan yang mengiringi mimpi. Mimpiku. Kurasakan keindahan yang begitu dalam pada sebuah pelukan-Nya di nuansa. Dia yakinkan aku dengan sebuah janji kehadiran-Nya yang kekal lampaui masa. Dia bawa aku ke negri penuh bunga. Dan kupu-kupulah yang menjadi penuainya. Menjangan bertanduk emas berkeliling menjaga gapura warna merah bata. Langit tak berwarna tersapu lembut puluhan pelangi yang menjadi awannya. Dia sentuh hati ini pada kecupan-Nya yang lembut di bibirku. Rasa ini terbuai dan melayang dalam putaran bintang dari mata-Nya."

Jangan mimpi, pintaku. Janganlah mimpi.....

Tuesday, May 17, 2005

Tolong kasih judul...

Too many "HAHAHAHAHA" We've shared...

Too many "HIHIHIHIHIHI" We've laughed...

Too many "HUHUHUHUHU" We've cried...

Too many "Yes..yes..yes" We've said...

Too many "No..no..no" We've said...

Too many "Hate..hate..hate" We've shout...

Too many "Warm..warm..warm" The hug...

I've never been like this before... Do you??
please tell me...

Wednesday, April 27, 2005

Try, try, try

Pop tart
What's our mission
Do we know
But never listen
For too long
They held me under
But I hear
It's almost over
In Detroit
On a Memphis train
Like you said it's
Down in the heat and the summer rain of
The automatic gauze of your memories
Down in the sleep at the airplane races
Try to hold on
To this heart
A little bit longer
Try to hold on
To this love aloud
Try to hold on
For this heart's
A little bit colder
Try to hold on
To this love
Paperback scrawl your hidden poems
Written around the dried out flowers
Here we are still trading places
To try to hold on
Pop tart
Can you envision
A free world
Of clear division
For too long
They held us under
But I know
We're getting over
In Detroit
With the Nashville tears
Like you said it's
Down in the heat with the broken numbers
Down in the gaze of solemnity
Down in the way you've held together
To try to hold on
To this heart
A little bit closer
Try to hold on
To this love aloud
Try to hold on
For this heart's
A little bit older
Try to hold on
To this love aloud
And we are still alive
Try to hold on
And we have survived
Try to hold on
And no one should deny
We tried to hold onto the pulse of the feedback current
Into the flow of encrypted movement
Slapback kills the ancient remnants
That try to hold on
Try to hold on
To this heart alive
Try to hold on
To this love aloud
Try to hold on
And we are still alive
Try to hold on
And we have survived
Try to hold on
Pop tart
You never listen
Skinned knees
Try to hold on
Stop start
What's our mission
Skinned knees
Try to hold on

RESIKO


Apa yang lo pikirin pas mendengar kata "resiko"? Sesuatu yang menakutkan? Bahaya yang mengancam? Sandungan bagi keberhasilan? Kemungkinan rugi? Atau, apa?

Tak salah kalo kita nganggep resiko selalu berwajah sereeem. Tanpa sadar, sudah terlalu lama, kita belajar untuk selalu menghindari resiko. (betul gak penonton?!)

Padahal sesungguhnya tak seorang pun bisa mengelak dari kemungkinan untuk gagal. Namun, itu bukan berarti kita harus gagal. Kita hanya perlu memandang resiko dari sudut yang sama sekali berbeda.

Bahwa segala sesuatu adalah resiko.Hanya karena kita bisa mengatasinyalah kita tak menganggapnya terlalu serius. Resiko menampakkan taringnya karena kita tak tahu bagaimana menghadapinya.

Karena itu, salah satu kunci terutama dalam berteman dengan resiko secara damai adalah membangun pengelolaan yang baik dan benar, serta menumbuhkan budaya kerja yang sehat, berkemampuan hidup tinggi, dan sekali lagi, mengakui adanya kemungkinan untuk gagal.

Resiko tak lebih dari cemeti yang mengajarkan kita untuk tetap realistis... huuhuhuhuhuhuh...


Apakah Cinta itu?

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.

Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

Monday, April 25, 2005

Menjadi tua itu pasti, dewasa? belum tentu

Temens, belakangan ini gua sering pernah berantem ama pacar gua gara2 kelakuan bos-nya yang kayak anak kecil, nah dari situ gua coba renungin, ternyata bukan cuma bos-nya cewek gua yang "kurang dewasa"... mulai dari temen gue, bapak gue, dan bahkan gue sendiri kadang cuma "menang tua" doang.. huahahaha... jadi mari kita buka forum sotoy ini


Tingkat kedewasaan seseorang enggak selalu berbanding lurus dengan usianya. Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Lalu, bagaimana mengukur tingkat kedewasaan seseorang?

Toni sering sebel kalau teman-temannya komentar, "Kamu kok enggak dewasa gitu, sih?" Atau nyokapnya juga pernah komentar, "Toni , kamu kan sudah gede, dewasa dikit dong."

Kita mungkin pernah menghadapi situasi seperti yang dialami Toni. Atau kita sendiri sudah bosan dibilang anak- anak, pengin dianggap gede. Dibilang anak-anak ogah, dibilang dewasa juga masih bingung. Memang dewasa itu kayak apa ya?

Ada beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kedewasaan seseorang.

1. Intelektual

Dari segi ini kita dikatakan dewasa dilihat dari kemampuan kita membentuk pendirian. Artinya, kita punya pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang- ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap. Tapi, tetap memerhatikan pendapat orang lain walaupun tidak bersandar pada pendapat itu. Kemampuan mengambil keputusan sendiri dengan tegas dan bebas berdasarkan bukti, alasan nyata, dan nasihat baik dari orang lain, serta bertanggung jawab dengan segala keputusan kita. Tidak bingung kalau ada masalah, tapi dianalisis sebab-sebabnya sehingga bisa dicari kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya.

2. Emosional

Kita dikatakan sebagai orang dewasa secara emosional ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya, apa pun emosi yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.

3. Sosial

Kedewasaan kita dari segi sosial tampak dari keterbukaan terhadap orang lain. Sanggup membuat persahabatan. Tidak bergantung kepada siapa pun, tapi bukan berarti kita tidak butuh orang lain. Kita bisa menyesuaikan diri dan hormat dengan hukum, kebiasaan, dan adat-istiadat masyarakat di mana pun kita berada.

4. Moral

Dari segi moral dapat dilihat dari kesetiaan kita pada asas- asas moral dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya semakin dewasa diri kita, akan semakin mementingkan orang lain daripada diri sendiri.

5. Spiritual

Kedewasaan dari segi ini bisa dilihat dari cara berkeyakinan yang tidak sempit. Kita mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang- orang yang keyakinannya berbeda dari diri kita. Kalau sudah mencapai hal itu, kita mampu mencintai orang lain tanpa batas-batas agama, ras, suku, atau golongan.

Lalu, apakah seseorang yang disebut dewasa kemudian meninggalkan segala bentuk keceriaan, kegembiraan, dan kegairahan hidup? Tentu saja tidak. Orang dewasa tidak harus selalu bersikap serius. Adakalanya orang dewasa juga bersikap jahil dan senang bercanda untuk memecah kebekuan atau menurunkan ketegangan.

Penghambat kedewasaan

Kedewasaan tidak selalu berhubungan dengan umur. Kadang ada orang yang umurnya boleh dibilang tua, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan, suka menang sendiri, emosian, dan enggak mau kalah. Tapi, ada yang sebaliknya walaupun usianya masih muda, dia mampu menjadi panutan teman-temannya.

Kedewasaan adalah proses perkembangan kepribadian. Karena proses, jadi enggak bisa instant. Tidak bisa hanya dengan berdandan ala orang dewasa terus jadi orang dewasa. Kedewasaan itu lebih ke sikap kita dalam menghadapi apa pun. Memang sih, mestinya yang umurnya lebih banyak dia akan lebih dewasa karena sudah mengalami banyak hal dalam hidup dan lebih banyak belajar dari pengalaman. Tapi nyatanya tidak selalu begitu, ini karena pendewasaan dalam prosesnya bisa mengalami kemajuan, mandek, bahkan mundur. Orang yang selalu belajar dari pengalaman dan suka introspeksi diri biasanya proses kedewasaannya makin maju. Artinya, makin hari ia makin tumbuh menjadi manusia yang lebih bijaksana. Sebaliknya, orang yang cepat merasa puas sehingga merasa tidak perlu belajar lagi, manja, tidak mau dikritik dan selalu lari dari masalah akan mengalami hambatan dalam proses pendewasaannya.